Memilih Lambat di Dunia yang Serba Cepat
*Tulisan ini merupakan salah satu tugas Mata Kuliah Budaya Siber dan Digitalisasi Masyarakat
Memilih Lambat di Dunia yang Serba Cepat
*Tulisan ini merupakan salah satu tugas Mata Kuliah Budaya Siber dan Digitalisasi Masyarakat
Pengantar
Suatu hari, FYP Tiktok saya menampilkan konten tentang evolusi Bahasa Indonesia dari generasi ke generasi. Konten ini menunjukkan bagaimana percakapan orang Indonesia berubah seiring waktu. Contoh yang saya lihat waktu itu adalah ajakan untuk pergi ke taman yang kira-kira disajikan sebagai berikut:
Generasi Baby Boomers: "Cuaca hari ini cerah sekali, bagaimana jika kita pergi ke taman?
Generasi X: "Cuaca cerah begini, ayo pergi ke taman!
Generasi Y: "Mau ke taman gak?”
Generasi Z: "Kuy, taman?”
Akan ada banyak konten serupa di TikTok jika mencari dengan kata kunci "Evolusi Bahasa Indonesia”. Perubahan ini juga terjadi dalam evolusi obrolan melalui aplikasi pesan. Bahkan, ketika saya melihat percakapan saya melalui aplikasi pesan, banyak yang hanya menggunakan meme atau stiker tanpa teks. Pengalaman ini sangat mungkin juga dialami oleh banyak orang.
Perubahan dari percakapan panjang menuju percakapan singkat ini sangat berhubungan dengan kecepatan. Di era digital seperti sekarang, sangat mudah untuk melihat prevalensi dan dominasi kecepatan di berbagai aspek kehidupan. Paul Virilio, dalam konsep dromologi (logika kecepatan), menyatakan bahwa kecepatan telah menjadi pondasi utama bagi teknologi dan kultur masyarakat kontemporer (Virilio, 2006: 29). Virilio menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini seperti berada pada sebuah lomba kecepatan dalam segala hal, seperti kecepatan internet dan transportasi. Begitu juga dengan kecepatan komunikasi dalam percakapan-percakapan harian yang didukung oleh teknologi.
Teknologi telah mendukung laju percepatan komunikasi melalui digital. Komunikasi digital memungkinkan akses informasi yang cepat dan efisien, mempercepat aliran informasi, dan mengubah dinamika komunikasi antarindividu dan maupun dengan kelompok. Pun mampu menggeser pengalaman personal dan sosial tentang waktu dan ruang. Bahkan mampu menghilangkan susunan-susunan ruang dan waktu tersebut.
Di tengah laju percakapan yang semakin cepat dari waktu ke waktu ini, terdapat aplikasi obrolan yang seakan menentang kecepatan itu sendiri, yaitu aplikasi Slowly. Slowly menawarkan sebuah kontrapoin dengan mengajak pengguna untuk memperlambat dan merenungkan kembali esensi dari komunikasi manusia. Esai ini merupakan tulisan refleksi saya yang menggunakan aplikasi Slowly untuk sejenak memberikan jeda pada percakapan-percakapan yang serba cepat dan dangkal.
Kecepatan dalam Komunikasi Digital
Teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam cara kita berkomunikasi di era digital, salah satunya adalah menciptakan kecepatan dalam komunikasi yang jauh lebih tinggi. Berbagai provider komunikasi dan aplikasi obrolan berlomba-lomba menarik konsumen dengan menjual kecepatan. “Tanpa buffering, sreaming-an film lancar” dan lain-lain merupakan contoh tagline iklan provider komunikasi dalam menarik konsumen. Tagline tersebut jelas menjual kecepatan.
Perusahaan provider komunikasi pun semakin terdorong meningkatkan kecepatan mereka karena uji kecepatan jaringan tersedia bebas di internet. Setiap pelanggan bisa dengan mudah menguji kecepatan provider yang digunakan untuk membandingkan provider mana yang lebih cepat di daerah domisilinya. Bahkan perusahaan asal Amerika, Speedtest, rutin mengeluarkan laporan pengujian jaringan tercepat secara berkala. Tagline iklan dan persaingan kecepattan antar provider ini mendorong masyarakat sebagai konsumen masuk ke dalam ruang yang Virillio sebut sebagai ruang kecepatan.Â
Virilio (2006) membahas kecepatan tidak hanya sebagai karakteristik teknis, tetapi sebagai kekuatan sosial dan budaya yang mendefinisikan sebuah zaman. Kecepatan mempengaruhi cara kita berinteraksi, cara perusahaan beroperasi, dan bahkan cara pemerintah menjalankan kebijakan. Dalam konteks ini, kecepatan adalah kekuasaan. Mereka yang memiliki kekuasaan dapat mengontrol budaya, ekonomi, dan bahkan politik. Namun, kecepatan juga membawa konsekuensi seperti pengurangan kedalaman pemikiran, penurunan interaksi kualitatif, dan bahkan potensi untuk kecelakaan skala besar yang disebut Virilio sebagai "kecelakaan integral” (Virilio, 2006: 20). Penemuan baru akan menghasilkan kecelakaan baru. Semakin cepat, semakin besar pula risiko kecelakaan. Kira-kira seperti itu.Â
Kecelakaan integral yang dimaksud dan dicontohkan Virilio dalam bukunya Speed and Politics (2006) adalah kecelakaan transportasi dan emisi gas akibat kecepatan (2006, 20-21). Dalam konteks komunikasi digital, konsep kecelakaan integral dapat ditujukan pada risiko dan konsekuensi dari semakin cepatnya arus informasi dan komunikasi. Seperti risiko keamanan dan privasi, pengaturan kontrol melalui algoritma, penyebaran informasi yang salah (hoaks), ketergantungan pada teknologi, pola komunikasi yang dangkal, serta dampak psikologi dan sosial yang menyertainya.Â
Slowly untuk Melambat dan Mendalami Makna dari Kata-Kata
Di tengah pesatnya komunikasi instan, Slowly muncul sebagai sebuah anomali. Slowly merupakan aplikasi bertukar pesan melalui surat digital yang diluncurkan tahun 2017 oleh pembuatnya, Kevin Wong. Satu tahun berselang, saya menemukan threads di Twitter tentang aplikasi bertukar pesan ini. Karena tertarik, sejak 2018 itulah saya mulai menggunakan Slowly. Mengingat kembali saat membuat akunnya, saya langsung tertarik karena ternyata tidak perlu “menyetorkan” macam-macam identitas diri. Seingat saya, hanya akun email yang dibutuhkan. Lebih jauh dalam membentuk pertemanan digital melalui pertukaran pesan di Slowly, saya mendapatkan experience sama seperti mengirim surat secara fisik melalui kantor pos dalam dua dekade tahun yang lalu. Waktu pengiriman dan penerimaan pesan tergantung jarak geografis. Sehingga, Slowly menghadirkan kembali susunan ruang dan waktu, yang sebelumnya diyakini Virilio telah hilang akibat logika kecepatan.
Virilio juga menekankan bahwa kecepatan adalah elemen kunci dalam kontrol sosial dan politik modern, termasuk dalam komunikasi. Namun, aplikasi Slowly dengan sengaja memperlambat komunikasi. Dengan memperkenalkan keterlambatan dalam komunikasi, Slowly membuat saya untuk meluangkan waktu lebih lama dalam menulis dan membaca pesan. Hal ini, sesuai pengalaman saya, berhasil menciptakan interaksi yang lebih mendalam dan reflektif. Saya menganggap ini sebagai bentuk perlawanan terhadap tren komunikasi instan yang sering kali dangkal dan terburu-buru.
Senada dengan Virilio, David J. Phillips menggambarkan bahwa konsep Michel Foucault tentang panoptikon memang terjadi dalam teknologi komunikasi (2006, 222). Panoptikon tersebut berupa “pengawasan dan pengaturan tak terlihat” oleh platform-platform digital melalui algoritma. Dalam konteks aplikasi bertukar pesan, panoptikon bekerja seperti pada fitur di Whatsapp, Telegram, Line, atau Facebook Messenger yang menunjukkan status "terlihat" atau "sedang mengetik”. Tanpa disadari, fitur-fitur tersebut yang berada dalam ruang kecepatan itu telah menciptakan kecemasan penuh tekanan. Sering timbul perasaan “tidak enak belum dibalas padahal sudah dibaca sehingga harus buru-buru dibalas”.
Hal tersebut tidak terjadi saat menggunakan Slowly. Slowly membuat saya berkomunikasi tanpa tekanan untuk segera merespons dan memberikan waktu untuk merefleksikan apa yang ingin disampaikan. Dalam dunia yang serba cepat, sering kali kita bereaksi daripada merespons secara bijaksana. Slowly memberikan waktu untuk memikirkan dan merumuskan pesan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas komunikasi. Ini relevan dengan kritik Virilio terhadap kehilangan kedalaman dan kemanusiaan dalam interaksi yang dipercepat oleh teknologi. Integrasi kehidupan sosial ke dalam jaringan informasi membawa risiko crash yang dapat menghancurkan ikatan sosial yang dimediasi oleh teknologi (Virilio, 2006: 21). Ini menunjukkan bahwa percepatan teknologi dapat merusak kedalaman hubungan sosial.
Dengan memfasilitasi komunikasi yang lebih lambat, Slowly membantu membentuk hubungan yang lebih bermakna. Dalam dunia yang menekankan efisiensi dan kecepatan, Slowly mengajak saya dan mungkin pengguna lainnya untuk mengambil jalan yang lebih lambat dan penuh pertimbangan. Berdasarkan data dari laman resmi Slowly per 27 Juni 2024, setidaknya ada 8,7 juta orang yang mengunduh aplikasi Slowly. Artinya, sekira lebih dari delapan juta orang menginginkan percakapan yang lambat. Slowly memberikan ruang untuk mendalami makna dari kata-kata yang disusun dalam pesan. Hal ini sangat berharga dalam membangun persahabatan atau bahkan hubungan interpersonal yang lebih dalam.
Kurang lebih enam tahun setelah menggunakan Slowly, setidaknya saya memiliki empat teman virtual yang “awet” sampai sekarang. Mengacu pada konsep pertemanan virtual, Carter (2005) merujuk konsep Anthony Giddens tentang pure relationship. Konsep ini memiliki tiga elemen kunci yang membentuk relasi pertemanan yaitu freedom, commitment, dan intimacy (Carter, 2005 : 156). Ketiga konsep ini tercipta dari kualitas komunikasi yang baik. Slowly memberikan ruang tersebut. Dengan pengiriman pesan yang lebih membutuhkan waktu, membuat saya dan teman-teman virtual lebih menghargai dan membuat pesan menjadi lebih layak untuk dinanti.Â
Terbiasa dengan pesan komunikasi yang lebih mendalam di Slowly, saya merasa bahwa pesan-pesan saya di platform lain pun mengalami perubahan. Bukan hanya pesannya, namun juga saya mencoba menghilangkan risiko pengawasan dan tekanan yang ditimbulkan akibat logika kecepatan. Seperti dalam aplikasi Whatsapp. Saya telah lama mematikan fitur centang biru dan menghilangkan fitur last seen menjadi invisible. Hal ini setidaknya menjadi resistensi saya dari kecemasan dan tekanan yang dimaksud. Begitu juga, harapannya dapat menghilangkan kecemasan dan tekanan orang lain bahwa tidak segera merespon pesan saya itu bukan suatu masalah. Meskipun, di sisi lain, saya tetap menggunakan aplikasi pesan instan untuk berkomunikasi harian dalam hubungan sosial namun bentuk-bentuk resistensi kecil penting dilakukan untuk melawan determinasi teknologi.
Penutup
Melihat aplikasi Slowly dari lensa logika kecepatan Paul Virilio, menghasilkan kesadaran bahwa tidak semua teknologi harus mengikuti logika kecepatan yang dominan. Slowly, dengan pendekatannya yang unik, menawarkan alternatif untuk merenungkan kembali nilai-nilai komunikasi. Slowly dan penggunanya seperti saya seakan menantang norma kecepatan yang mungkin telah kita terima lama tanpa pertanyaan. Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, melambatkan laju bisa menghasilkan pengalaman yang lebih kaya dan lebih manusiawi.
Secara keseluruhan, Slowly tidak hanya sebagai aplikasi untuk mengirim pesan, tetapi juga sebagai alat reflektif yang mengajarkan saya tentang pentingnya hubungan manusia dalam era digital. Saya menyadari bahwa perlambatan komunikasi dapat menghadirkan kedalaman makna atau memberikan peluang untuk meninjau ulang makna dalam setiap interaksi. Dari riah riuh dunia yang bergerak sangat cepat, Slowly mengingatkan saya tentang nilai dari kesabaran dan perhatian dalam setiap percakapan. Namun juga ini semua bukan hanya tentang memperlambat laju komunikasi, tapi juga tentang mengembalikan esensi dari keintiman dalam interaksi manusia.Â
Perbedaan tempat, ruang, dan waktu yang telah hilang akibat logika kecepatan, ternyata penting juga diakui untuk dimaknai dengan bijaksana. Menulis esai refleksi ini memberikan pelajaran yang berharga dalam memahami dan mungkin menegosiasikan pengaruh dromologi dalam kehidupan. Juga, menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak kekuatan dalam perlahan daripada dalam cepat.
Referensi
Carter, Denise (2005), “Living in Virtual Communities: An Ethnography of Human Relationships in Cyberspace”. Dalam Information, Communication & Soviety, Vol. 8, No. 2
Phillips, David (2006), ‟Cyberstudies and the Politics of Visibility‟, dalam David Silver & Adrienne Massanari (eds.), Critical Cyberculture Studies. New York & London: New York Univ. Press, hal. 216 - 227
Virilio, Paul (2006), “Speed and Politics”. Diterjemahkan oleh Nicholas Zurko dan Mark Polizzotti. Los Angeles: Semiotext(e)